Siapa yang tidak kenal Soedono Salim, pendiri kerajaan bisnis Salim Grup yang sangat digdaya di masa pemerintahan Orde Baru Soeharto?
Tahun 1998, hampir bankrut akibat krisis ekonomi dan kejatuhan sohibnya. Tidak kurang 108 perusahaan dari lebih 550 gurita konglomerasinya harus diserahkan ke Pemerintah c.q. Badan Penyehatan Perbankan Indonesia (BPPN), gara-gara tidak mampu mengembalikan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) senilai Rp 52 Triliun.
Yang diserahkan termasuk perusahaan mesin uangnya seperti Indocement, Bank BCA, Indomobil, Salim Plantation, perusahaan2 industri gula dan Indosiar. Yang masih dipertahankan antara lain adalah Indofood dan Bogasari.
Akibat rumahnya di Gunung Sahari Jakarta dirusak massa pada tahun 1998, Sudono Salim nampaknya enggan kembali ke Indonesia dan memilih menetap di Singapura.
Kebangkitan Salim Grup tidak lepas dari kerja keras anak bungsunya, Anthoni Salim. Setelah mendapat surat lunas hutang tahun 2004 dari Pemerintahan Megawati, Indofood makin berjaya dengan merambah pasar Internasional. Bisnis kelapa sawit dan gula dimasuki kembali melalui Salim Invomas dan pabrik2 gula di Sumatera Selatan. Selain di Indonesia gerakan bisnis internasionalnya dikendalikan melalui First Pacific yang berpusat di Hongkong.
Sebagaimana yang disampaikan majalah Warta Ekonomi, asset Salim Grup diperkirakan mencapai Rp 39,4 Triliun, berada pada urutan ke-6 konglomerat Indonesia. Sedangkan Anthoni Salim sendiri merupakan orang terkaya ke-11 di Indonesia.
0 Tanggapan ke “Grup Salim : Kembali Berjaya setelah sempat Terpuruk”